Kisruh, Ratusan Dokter Desak Muscab IDI Cianjur Diulang

Ilustrasi /Net

#INFOCJR – Kisruh suksesi kepemimpinan ternyata tidak hanya terjadi pada partai politik saja, organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Cianjur juga mengalami hal serupa. “Kita tentu sangat menyayangkan organisasi sebesar IDI mengalami kebuntuan dalam proses suksesi kepemimpinannya, sehingga menyisakan perpecahan dan kekhawatiran diantara anggota,” kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Cianjur, Erwin Rustiana, SH, kepada INFOCIANJUR di Kantor YLBH Cianjur Jl. Siti Bodedar Dalem Kaum Cianjur, Senin (3/4/2017).

Erwin mengaku mendapat laporan dari sejumlah dokter yang kecewa terhadap proses musyawarah cabang (Muscab) IDI Cianjur yang berlangsung tidak demokratis dan penuh rekayasa di Rumah makan Ikan Bakar Cianjur (IBC), Sabtu (1/4/2017). “Kami tengah membantu mengkaji apakah ada unsur-unsur pelanggaran hukum dalam muscab IDI tersebut, jika memang ada bisa saja para dokter yang merasa dirugikan oleh keputusan sepihak itu melakukan gugatan dan melaporkan penyelenggara Muscab ke pihak terkait termasuk ke pihak kepolisian,” kata Erwin yang mengaku menerima pengaduan dan laporan dari para dokter anggota IDI tersebut.

Disebutkan Erwin, pada saat Muscab IDI Cabang Cianjur Sabtu lalu itu, tiba-tiba para peserta diminta untuk menyetujui secara aklamasi calon tunggal ketua IDI Cabang Cianjur berinisial dr. T. “Ibu T ini adalah Ketua IDI Cabang Cianjur 2013 – 2016 dan istri dari Ketua IDI Cabang Cianjur periode sebelumya,” sambung Erwin.

Sejumlah peserta Muscab IDI Cianjur membenarkan terjadi kekisruhan dan pemaksaan kehendak dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IDIĀ  Cabang Cianjur di Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur itu. “Memang telah terjadi persoalan serius dalam Muscab IDI Cianjur ini, sehingga kita perlu mengajukan protes dan keberatan,” kata salah satu anggota IDI Cianjur yang juga Kepala RSUD Pagelaran Cianjur Selatan, Dr. Eva Fatimah, saat mengadukan persoalan kekisruhan di tubuh IDI Cianjur kepada Bupati Cianjur, Sabtu malam (1/4/2017).

Saat menyampaikan keluhan itu Eva didampingi Kepala RSUD Cimacan Cianjur, Dr. H. Darmawan dan Kepala RSUD Cianjur, Dr. Hj. Ratu Tri Yulia serta belasan dokter lainnya seperti Dr. Sani , Dr. Irfan dan lain-lain.

Menurut mereka aroma keganjilan mulai tercium saat pemilihan ketua baru. IDI sebagai organisasi profesi dokter harusnya mengesampingkan kepentingan-kepentingan politik. “Faktanya aroma politik lebih dominan dan mulai terkuak. Hal ini bisa dilihat dari awal pembentukan presidium dan tata tertib persyaratan calon ketua. Misalnya soal kepemilikan KTA dan mekanisme aklamasi yang tidak terlibih dahulu ditawarkan ke forum, untuk itu hal yang paling bijaksana menurut kami diadakan muscab ulang,” ujar mereka saat itu.

Disebutkan, saat Muscab IDI Cianjur versi Ikan Bakar Cianjur ini berlangsung sebenarnya ada beberapa dokter yang akan mengajukan diri sebagai calon ketua, namun dengan segala argumen yang dipaksakan para calon kandidat Ketua IDI Cabang Cianjur itu terjegal di tengah jalan. “Hingga pada akhirnya hanya Dr. T saja yang dianggap memenuhi syarat, sehingga saat itu juga harus ada aklamasi,” tambah Dr. Sani. Padahal saat itu Sani mengaku akan mencalonkan diri karena merasa didukung oleh teman-teman sejawatnya.

Dokter lainnya yang dihubungi INFOCIANJUR, Dr. Awie D.Sp.OG, mengaku tidak mengetahui banyak pelaksanaan Muscab IDI Cabang Cianjur itu. “Saya kebetulan tidak hadir saat itu, tapi jika sampai terjadi kekisruhan tentu saja sangat disesalkan,” kata Awie.

Pantauan di lapangan sedikitnya 120 dokter di Cianjur telah membubuhkan tanda tangan penolakan hasil sementara Muscab IDI Cianjur versi Rumah Makan IBC tersebut. Dalam surat protesnya itu para dokter diantaranya menuntut proses dan hasil Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Cianjur yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 April 2017 bertempat di rumah makan Ikan Bakar Cianjur.

Alasannya Muscab IDI cabang Cianjur tidak komprehensif dan tidak berdasarkan asas profesionalisme, Polling calon tidak memenuhi asas transparansi. Kemudian terdapat persyaratan administrasi calon ketua yang tidak disosialisasikan terlebih dahulu sehingga cenderung manipulatif. Sehingga melahirkan proses aklamasi yang tidak memenuhi syarat-syarat demokratis.

Untuk itu mereka menuntut pengurus demisioner untuk melanjutkan Muscab IDI Cianjur yang demokratis dalam tempo secepat-cepatnya. “Lalu apabila cara konsensual tidak disepakati, tidak menutup kemungkinan akan ditempuh langkah hukum,” demikian isi pernyataan tersebut yang dikirim ke redaksi INFOCIANJUR beberapa waktu lalu. ***

Share This:

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *