Dataisme
ilustrasi, Big Data, sumber bernardmarr.com


Di akhir Oktober 2025, publik Indonesia diguncang oleh berita yang segera menduduki puncak linimasa media sosial: seorang mahasiswa di Semarang, yang akrab disapa “Chiko”, ditangkap karena membuat dan menyebarkan foto hasil manipulasi wajah siswi serta gurunya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Foto-foto itu menampilkan tubuh orang lain, wajah korban, dan narasi bohong yang diolah sedemikian rupa hingga tampak meyakinkan. Dunia maya bergemuruh. Dunia nyata terguncang.
______________________________________
Peristiwa itu lebih dari sekadar kejahatan digital; ia adalah gejala budaya baru: manusia mulai memperlakukan sesamanya sebagai objek algoritma. Wajah bukan lagi identitas, melainkan data yang bisa disalin, diubah, dan diperjualbelikan. Di tangan manusia yang salah, teknologi AI menjelma ‘dewa kecil’ yang mampu mencipta dan menghancurkan secara bersamaan.
Kasus tersebut seolah menjawab ramalan futuristik Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2017). Harari menulis bahwa umat manusia, setelah menaklukkan kelaparan, wabah, dan perang, kini berambisi mengejar tiga proyek besar: keabadian, kebahagiaan, dan keilahian. Manusia bukan lagi makhluk yang tunduk kepada Tuhan, melainkan berusaha menjadi Tuhan.
Ketika kita menggunakan algoritma untuk meniru wajah, mengedit kenyataan, bahkan menciptakan “realitas baru”, bukankah itu bentuk kecil dari ambisi “menjadi dewa”? Kasus Chiko hanyalah satu ilustrasi mikro: manusia modern tengah terperangkap di antara kekuasaan teknologi dan kehilangan makna kemanusiaan.
Agenda Baru Manusia?
Dalam Homo Deus, Harari menggambarkan bagaimana manusia telah berpindah dari Homo sapiens — makhluk bijak — ke arah Homo deus — makhluk “ilahi”. Selama ribuan tahun, manusia sibuk bertahan hidup; kini manusia ingin menulis ulang kehidupan itu sendiri. “Sejarah dimulai ketika manusia menciptakan dewa,” tulis Harari, “dan akan berakhir ketika manusia menjadi dewa.”
Namun, “keilahian” yang dimaksud bukan spiritual, melainkan teknologis. Melalui bioteknologi, manusia ingin memperpanjang hidup dan mengedit gen. Melalui kecerdasan buatan, manusia menciptakan sistem yang bisa berpikir, membuat keputusan, bahkan menggantikan dirinya. Dengan kata lain, manusia ingin menaklukkan kematian, penderitaan, dan ketidaktahuan — tiga hal yang dulu menjadi wilayah kekuasaan Tuhan.
Di sini terletak ironi besar. Manusia modern yang memuja rasionalitas justru menciptakan mitologi baru tentang kemajuan. Kita percaya pada “kemahakuasaan data” sebagaimana dulu manusia percaya pada kemahakuasaan ilahi. Kita memperlakukan teknologi dengan iman yang sama: tak terlihat, tapi dipercaya mengatur segalanya.
Harari menyebut keyakinan baru ini sebagai Dataisme: ide bahwa segala sesuatu di dunia adalah aliran data, dan nilai moral tertinggi adalah memperlancar arus data tersebut. Dalam Dataisme, bukan lagi Tuhan atau manusia yang menjadi pusat alam semesta, melainkan informasi. Cinta, moral, bahkan empati dianggap tidak lebih dari algoritma biologis yang bisa dipetakan dan dimanipulasi. “Dataisme menyatakan bahwa alam semesta terdiri dari aliran data, dan nilai setiap entitas ditentukan oleh kontribusinya terhadap pemrosesan data,” tulis Harari.
Di era media sosial, pernyataan itu terasa bukan ramalan, melainkan realitas. Manusia modern diukur bukan dari amal atau kebijaksanaan, tapi dari engagement rate. Nilai diri bukan dari karakter, tapi dari jumlah pengikut dan klik. Kita tidak lagi hidup untuk memahami dunia, melainkan untuk memperbarui status tentang dunia.
Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019) memperingatkan bahwa kapitalisme digital sedang “menambang pengalaman manusia sebagai bahan baku gratis untuk diolah menjadi data perilaku.” Di titik ini, Dataisme bukan lagi metafora, tetapi sistem ekonomi global yang menempatkan manusia sebagai komoditas.
Dan di Indonesia, di mana literasi digital masih rendah, Dataisme menjelma menjadi ancaman ganda: ia menipu dengan kecepatan informasi dan menjerat dengan ilusi kebebasan. Kita merasa berkuasa di dunia digital, padahal sesungguhnya kita sedang dipetakan, diprediksi, dan diarahkan.
Harari memperingatkan: algoritma yang kita ciptakan akan mengenal kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Ketika itu terjadi, “kebebasan” bisa jadi hanya ilusi. Mesin akan memprediksi keinginan kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Musik apa yang kita dengar, siapa yang kita cintai, bahkan ke mana arah politik kita — semua bisa dihitung dari data.
Nick Bostrom dalam Superintelligence (2014) juga mengkhawatirkan bahwa kecerdasan buatan bisa berkembang tanpa batas hingga melebihi manusia. Namun, berbeda dengan Harari yang menyoroti krisis makna, Bostrom menyoroti risiko eksistensial: mesin bisa membunuh penciptanya.
Dua kekhawatiran itu bertemu di satu titik: manusia mungkin tak lagi menjadi pusat kesadaran. Seperti kata Harari, kecerdasan bisa hidup tanpa kesadaran. Dan itu berarti, masa depan mungkin tidak memerlukan manusia.
Apakah kebebasan itu masih ada ketika setiap keputusan kita diambil berdasarkan rekomendasi algoritma? Dari musik yang kita dengar di Spotify, hingga pasangan yang disarankan aplikasi kencan, manusia menyerahkan intuisi kepada sistem yang diklaim lebih tahu. Harari menulis, “Ketika algoritma mengenal kita lebih baik dari diri kita sendiri, kebebasan menjadi ilusi.”
Dalam visi futuristiknya, Harari menyebut bahwa manusia berpotensi menggabungkan biologi, teknologi, dan kecerdasan buatan menjadi satu kesatuan — menjadi makhluk baru: Homo deus. Namun, cita-cita itu menyimpan bahaya sosial yang tak kecil. Ia bisa menciptakan kasta biologis baru: segelintir manusia kaya yang mampu “meningkatkan diri” melalui teknologi, sementara sisanya tertinggal dalam bentuk lama.
Jan C. Bentz (2025) menyebut pandangan ini sebagai “mitos utopis sekuler”: manusia menggantikan surga dengan laboratorium. Michael Sandel dalam The Case Against Perfection (2007) bahkan lebih tajam: “Dalam mengejar kesempurnaan, manusia kehilangan kemampuan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kemanusiaan.”
Transhumanisme mengandung paradoks moral. Ia menjanjikan keabadian, tapi meniadakan empati; menjanjikan kebahagiaan, tapi melahirkan ketimpangan. Dalam konteks Indonesia, di mana kesenjangan ekonomi dan akses teknologi masih lebar, proyek Homo deus berpotensi menjadi alat baru kolonialisme digital: yang berkuasa bukan lagi bangsa penjajah, melainkan algoritma korporasi global.
Harari menulis dari posisi masyarakat makmur: di mana kelaparan, perang, dan wabah dianggap telah teratasi. Tetapi, di dunia Selatan — termasuk Indonesia — ketiganya masih nyata. Perang masih terjadi dalam bentuk konflik sumber daya; kelaparan hadir sebagai kemiskinan struktural; wabah datang silih berganti. Dalam konteks itu, Homo Deus terasa seperti catatan optimistik dari menara gading utara.
Vandana Shiva (1997) dalam Biopiracy mengingatkan bahwa sains dan teknologi modern sering berfungsi sebagai instrumen kekuasaan: mencuri pengetahuan tradisional, mengubahnya jadi paten, dan mengabaikan komunitas yang telah menjaganya selama berabad-abad. Dengan demikian, apa yang disebut “kemajuan” bagi satu pihak bisa berarti “penghapusan” bagi pihak lain.
Harari nyaris tak membahas bagaimana budaya, agama, dan tradisi non-Barat menanggapi revolusi teknologi. Padahal, di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, spiritualitas masih menjadi fondasi kehidupan sosial. Ketika ia menyebut agama sebagai “fiksi berguna”, ia lupa bahwa fiksi itulah yang menjaga keseimbangan ekologis dan moral masyarakat selama ribuan tahun.
Membaca dengan Kearifan Lokal
Filsafat Sunda memiliki konsep tatali paranti karuhun — tata laku leluhur — yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Manusia bukan penguasa, melainkan penjaga harmoni. Alam bukan sumber daya, tetapi sahabat kosmis. Tuhan bukan objek penelitian, melainkan sumber makna.
Ketika Harari berbicara tentang Homo deus, filsafat Sunda justru mengingatkan tentang Homo ekologis: manusia yang tidak meng-ilahkan diri, tetapi menyadari diri sebagai bagian dari tatanan yang lebih besar. Kearifan ini bersuara senada dengan pandangan sufistik: barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.
Dalam tasawuf, penghapusan ego (fana’) bukan berarti kehilangan identitas, melainkan menemukan hakikat sejati kemanusiaan — yakni cinta dan pengabdian. Inilah antitesis paling kuat terhadap Homo deus: bahwa menjadi “ilahi” bukan berarti menguasai alam, melainkan menyatu dengannya dalam kasih.
Harari mungkin skeptis terhadap agama, tapi ia sendiri menjalani meditasi Vipassana selama bertahun-tahun. Dalam praktik itu, ia menemukan apa yang ia sebut “realitas tanpa narasi”, yakni semcama kesadaran murni yang tak bergantung pada cerita atau ideologi. Di sini sebenarnya Harari menyentuh wilayah spiritualitas Timur, meski tak sepenuhnya mengakuinya.
Kita dapat mengembangkan posisi yang lebih integratif: teknologi memerlukan etika, dan etika memerlukan spiritualitas. Tanpa dimensi batin, kemajuan hanya akan mempercepat kehancuran. Tanpa pengetahuan, spiritualitas bisa kehilangan daya kritis. Keduanya perlu berjalan beriringan. Tradisi Islam klasik pun mengajarkan hal serupa. Al-Ghazali, Ibn Arabi, hingga Syekh Siti Jenar berbicara tentang kesatuan wujud: pengetahuan harus membawa manusia lebih dekat pada Tuhan, bukan lebih jauh. Maka, di era AI dan bioteknologi, spiritualitas bukan nostalgia masa lalu, melainkan navigasi masa depan.
Harari menulis bahwa “sejarah akan berakhir ketika manusia menjadi dewa.” Pernyataan itu bukan nubuat, melainkan peringatan. Karena bisa jadi, ketika manusia benar-benar menjadi dewa dalam arti teknologi, sejarah justru berhenti — bukan karena mencapai puncak, tetapi karena kehilangan arah. Kita hidup di masa di mana kecerdasan buatan bisa menulis puisi, melukis wajah, atau menulis opini seperti ini. Tetapi hanya manusia yang masih bisa merasakan arti puisi, menangis di depan lukisan, dan bertanya tentang makna di balik kata.
Penutup
Di penghujung buku Homo Deus, Harari bertanya, “Apa yang akan terjadi pada manusia ketika mereka menjadi dewa?” Ia tidak menjawab, dan mungkin memang tak perlu dijawab. Karena setiap generasi harus menulis ulang jawabannya sendiri. Bagi kita di Nusantara, mungkin jawabannya sederhana: Ketika manusia berhenti merasa kagum, ia berhenti menjadi manusia. Ketika manusia berhenti menghormati misteri, ia berhenti memahami kehidupan. Dan ketika manusia berhenti menyadari batas dirinya, ia berhenti beradab. Maka tugas kita bukan menjadi ‘Tuhan’ atas dunia, melainkan menjaga agar keajaiban tetap mungkin. Di tengah dunia yang semakin pandai, tapi kian kehilangan rasa kagum.



