Tradisi Ngaseuk di Sarongge, Harmoni Alam dan Budaya di Kaki Gunung Gede

#INFOCJR – Di kaki Gunung Gede, tradisi lama kembali hidup. Sabtu (8/11), halaman Kopi Sarongge di Kampung Sarongge Desa Ciputri Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, dipenuhi warga, seniman, dan petani yang berkumpul untuk merayakan Ngaseuk — prosesi adat Sunda sebagai ungkapan syukur dan doa menyambut datangnya musim tanam.
Acara yang digagas melalui kolaborasi antara Kopi Sarongge, Sanggar Seni Utami dan Green Initiative Foundation ini menampilkan ragam pertunjukan budaya seperti ibingan nayub, tembang Sunda, serta kliningan yang menghidupkan suasana desa. Prosesi adat tersebut menjadi simbol keselarasan antara manusia dan alam, sekaligus memperkuat nilai gotong royong dalam masyarakat agraris Sunda.
Tasyha Arifiani, salah satu penggerak kegiatan, menyebut Ngaseuk bukan sekadar tradisi menanam, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga bumi. “Melalui Ngaseuk, kita diingatkan kembali pada filosofi dasar budaya Sunda: silih asih, silih asah, silih asuh, yang menuntun manusia hidup selaras dengan alam dan sesama,” ujarnya.
Sebagai bagian dari kegiatan, Green Initiative Foundation turut menghadirkan kelompok tani hutan binaannya serta membagikan bibit tanaman yang disesuaikan dengan kondisi topografi masing-masing wilayah. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara pelestarian budaya dan gerakan ekologi berkelanjutan.
Di tengah udara sejuk Sarongge, doa dan tembang bergema di antara hamparan hijau. Semangat menanam pun tumbuh tak hanya di tanah, tetapi juga di hati — menumbuhkan harapan baru akan harmoni antara budaya, manusia, dan lingkungan.



