Mencari Arti Toponimi “Jangari”


Penulis: Ilham Nurwansah*
Untuk menyambut bulan Ramadhan warga Cianjur umumnya melakukan tradisi papajar, yaitu acara makan-makan bersama keluarga dan sanak saudara. Biasanya acara papajar dilakukan di tempat-tempat wisata, di kediaman kerabat atau keluarga besar. Salah satu tempat terfavorit untuk papajar adalah danau Jangari.
Danau buatan ini terletak di Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur. Jangari merupakan bagian dari dari Waduk Cirata yang mulai dibuat pada tahun 1983 dan mulai dioperasikan tahun 1988.
Lalu, apa sih arti dari kata “Jangari”?
Penelusuran Leksikografi
Sebagai langkah awal penelusuran kata “Jangari”, dilakukan perbandingan kosakata yang tersedia di dalam bahasa Sunda. Dalam hal ini digunakan sumber kamus-kamus bahasa Sunda, antara lain Kamus Basa Sunda Danadibrata (2006), Kamus Basa Sunda Sacadibrata (2005), Kamus Umum Basa Sunda (LBSS, 1995), A Dictionary of the Sunda Language of Java (Rigg, 1862), dan Sundanese-English Dictionary (Hardjadibrata, 2003).
Di dalam kamus-kamus bahasa Sunda tersebut kata “jangari” tidak ditemukan sebagai suatu kata yang memiliki arti kata tertentu. Namun ada beberapa kata yang mendekati, yaitu “janari”, “jangar”, “ngarih” dan sebuah frasa “Jang Ari”. Contoh terakhir tidak disebutkan dalam kamus, tetapi berupa ungkapan sehari-hari saja.
Kata “janari” berarti pagi buta atau dini hari yang berkonotasi dengan penanda waktu antara tengah malam dan subuh. “Jangar” memiliki arti ‘sakit kepala sebelah’, sebuah gejala sakit yang dirasakan kepala sebelah bagian, kiri atau kanan. “Ngarih” berasal dari kata “karih” yaitu proses membalikkan nasi yang telah direbus setengah matang. Sendok untuk “ngarih” disebut “pangarih”.
Contoh-contoh kata yang dekat dengan “jangari” tersebut tampaknya belum dapat digali lebih lanjut bagaimana kaitan dan kontkesnya dengan nama tempat. Namun, tidak tertutup kemungkinan jika ada makna tersendiri yang memang dapat dihubungkan dengan nama danau buatan legendaris di Cianjur ini.
Adapun frasa “Jang Ari” dibentuk dari penyingkatan kata “Ujang” untuk panggilan anak laki-laki, dan “Ari” yang lazim digunakan sebagai nama. Jadi, arti lengkapnya ‘anak laki-laki bernama Ari’. Frasa yang dicontohkan ini rasa-rasanya tidak ada hubungannya sama sekali dengan sebuah toponimi daerah.
Kalau tidak ditemukan dalam kosakata bahasa Sunda modern, lalu apakah kata “jangari” merupakan kosakata yang lebih arkaik? Ataukah mungkin berasal dari suatu kata atau ungkapan lain yang telah mengalami perubahan bunyi atau ucapan?
Sumber kartografi atau peta lama dari wilayah geografis pada masa lalu yang menunjukkan letak geografis danau Jangari saat ini, dapat dijadikan sandaran untuk mencari informasi. Namun, perlu difahami, bahwa beberapa nama tempat atau rupa bumi mungkin telah mengalami perubahan ucapan atau penulisan yang disesuaikan pada masanya.
Penelusuran Kartografis (Peta)
Sebelum waduk Cirata dibuat tahun 1983, wilayah yang kini tenggelam menjadi danau Jangari merupakan daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Aliran sungai Ci Tarum ini mengalir dalam lembah-lembah di antara barisan pegunungan dan perbukitan yang mengalir dari selatan ke utara. Sungai-sungai kecil yang bermuara ke Ci Tarum di sekitar Jangari yang masih dikenali saat ini antara lain Ci Kundul, Ci Balagung, Ci Sokan, dan Ci Hea. Semuanya bergabung di Ci Tarum yang memberi andil dalam menambah debit aliran air sungai.
Peta yang digunakan dalam penelusaran data ini, yaitu peta tahun 1855, 1893, 1923, dan sebuah peta lain yang dibuat sekitar 1800-an. Dari beberapa peta tersebut, tidak satupun ditemukan nama tempat atau suatu rupa bumi dengan kata “Jangari”. Walau demikian, beberapa nama sungai, gunung, desa, kampung dan tempat yang tertulis dalam peta-peta itu masih ada hingga sekarang.
Pertama, kita mulai penelusuran dengan sebuah peta tahun 1855 berjudul Kaart van het Eiland Java. Kata “jangari” tidak ditemukan, tetapi ada sebuah kata yang tampak dekat dengannya, yaitu “G. Dendeng Ari”. “G.” merupakan singkatan bahasa Belanda dari gebergte yang berarti “pegunungan” atau “barisan gunung-gunung”. Pegunungan Dendeng Ari merupakan titik perbatasan wilayah keresidenan Buitenzorg (Bogor) di barat, daerah Kandang Sapi yang merupakan bidang tanah partikelir (particuliere landen) di sebelah timur keresidenan Karawang, dan keresidenan Priangan di sebelah selatan.

Berikutnya, dalam sebuah peta topografi tahun 1893 tercatat sebuah nama “G. Dinggari” (1150 mdpl.) terletak tepat di selatan puncak G. Sangga Boewana (1298 mdpl.), dan sebelah utara G. Mandala Wangi di wilayah Ci Rama Euwah distrik Cikalong. “G.” di sini tampaknya berarti “goenoeng”. Jika dibandingkan dengan peta sebelumnya yang menyebut gunung “Dendeng Ari”, dalam peta ini gunung yang sama disebut “Dinggari”.
Seperti halnya dalam peta pertama, puncak Gunung Dinggari merupakan perbatasan karesidenan. Namun dengan sedikit perbedaaan otoritas yaitu Batavia di Barat, Karesidenan Karawang di timur dan Karesidenan Priangan di selatan. Berhubung peta ini hanya mencakup penampakan wilayah Priangan saja, jadi informasi yang didapatkan dari wilayah lain sekitar G. Dinggari sangat sedikit.

Ketiga, dalam peta topografi tahun 1923 gunung yang sama disebut “G. Dingdinghari” (1140 mdpl.). Puncaknya berada di timur laut puncak G. Pameungpeuk (1161 mdpl.). Puncak G. Dingdinghari merupakan titik pertemua dua wilayah keresidenan yaitu keresidenan Batavia di timur, tepatnya pada wilayah afdeling Karawang, distrik Karawang dan afdeling Buitenzorg distrik Cibarusah di barat, serta di selatan terdapat keresidenan Priangan, afdeling Cianjur, distrik Cikalong Kulon.
Puncak Gunung Dingdinghari tampak memanjang ke arah timur laut, bersambung dengan puncak Gunung Bojonghalimun di Karawang. Sisa-sisa penamaan Gunung Dindinghari di wilayah Karawang sekarang, tepatnya pada ujung timur laut, saat ini masih dikenal dengan nama “Tebing Dindari.”

Tinjauan Rupa Bumi
Untuk meninjau perihal gejala rupa bumi di sekitar wilayah danau Jangari sekarang, saya berkonsultasi dengan T. Bachtiar, pakar di Kelompok Riset Cekungan Bandung, untuk meminta pendapat dan pengalamannya dalam menggali toponimi di berbagai daerah di Jawa Barat. Menurutnya, sebagai sebuah nama rupa bumi, kata “jangari” terdengar unik. Ia juga memperkirakan bahwa kata “jangari” diduga kuat berasal dari nama barisan pegunungan Dingding Ari yang kita bahas.
Penamaan suatu tempat biasanya berhubungan dengan gejala bentuk rupa bumi di sekitranya. “Jika menilik bentuk puncak Gunung Dinding Ari yang berupa dinding raksasa itu, maka garisnya tampak “meliuk-likuk panjang menyerupai tali ari-ari” dalam bahasa Sunda berarti tali pusar.” sambung T. Bachtiar. Gagasan serupa terdapat dalam penamaan Gunung Kendeng yang berarti “urat panjang, layaknya panjang tali busur.” Walau demikian, ia menyebutkan bahwa kemungkinan asal-usul penamaan lain juga masih terbuka.
Menurutnya, barisan puncak Gunung Dinding Ari diperkirakan merupakan bekas tepian dinding dari tiga buah kawah gunung purba yang telah meletus jutaan tahun lalu. Hal ini dapat diamati dari pola lingkaran dan cekungan yang memusat. Deretan puncak gunung yang dapat diamati saat ini merupakan sisa dinding kawah sisi barat dari tiga kawah purba yang letaknya berdampingan. Hal ini tidak mengherankan, karena daerah sekitar Gunung Dinding Ari juga merupakan kawasan gunung api purba seperti Gunung Parang, Gunung Lembu, dan Gunung Bongkok. Selain itu, ia menerangkan bahwa terdapat sesar aktif yang membentang dari arah Majalengka hingga ke arah barat dan berhenti di danau Cirata.
Dari “Dingdinghari” Menjadi “Jangari”
Dari penelusuran kartografis telah diketahui bahwa tampaknya nama danau “Jangari” terinspirasi dari nama yang lebih kuno yang lebih dulu ada, yaitu Gunung Dingdinghari atau Gunung Dingding Ari yang puncaknya memanjang antara perbatasan tiga kabupaten: Cianjur, Kabupaten Bogor dan Karawang.
Puncak dari Gunung Dingdinghari perupakan titik penting sebagai poros perbatasan ketiga wilayah kabupaten sejak masa kolonial abad 19. Dengan demikian Gunung Dingdinghari memiliki arti penting dalam ingatan masa lalu masyarakat di sekitarnya sebagai penanda arah dan tempat.
Ingatan itu tampaknya terus berlanjut secara turun-temurun secara kolektif di wilayah Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur dengan pergeseran ucapan lisan dari Dingdinghari, Dingding Ari, Dendeng Ari, Dinggari, hingga kemudian menjadi Jangari. Sedangkan di wilayah kabupaten Karawang penyebutannya bergeser menjadi Dindari.
Pada generasi berikutnya, nama kuno itu tetap terjaga dalam wujud lain sebagai sebuah danau buatan di sebelah selatan. Mungkin saja ini sebagai semacam bentuk nostalgia dari ingatan kolektif masyarakat untuk mengenang kemegahan gunung purba yang diwariskan dari generasi ke generasi.
_________________________________________
*) Ilham Nurwansah, pemerhati sejarah, filolog, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur.