Dari Cianjur 1834 ke Living Heritage 2026 Menjadi Cara Lokatmala Foundation Merawat Warisan Budaya

 Dari Cianjur 1834 ke Living Heritage 2026 Menjadi Cara Lokatmala Foundation Merawat Warisan Budaya

Lokatmala Living Heritage 2026 (Dok. Lokatmala Foundatiom)

#INFOCJR – Sejarah kerap kali hanya berakhir di tumpukan arsip berdebu atau narasi masa lalu yang beku. Namun, bagi Lokatmala Foundation, sejarah adalah denyut nadi yang harus terus dihidupkan dalam laku keseharian. ​Setelah sukses menggelar program “Cianjur 1834: Mengenang Kejayaan, Merajut Kebanggaan, Menghidupkan Kebersamaan” sepanjang tahun 2025, yayasan yang fokus pada pemajuan kebudayaan ini kini melangkah ke babak baru melalui program “Lokatmala Living Heritage 2026”. ​

Ketua Lokatmala Foundation, Wina Resky Agustina menuturkan, transisi dari program 2025 ke 2026 bukan sekadar pergantian tema, melainkan sebuah pendalaman makna kultural. Jika pada 2025 publik diajak menelusuri memori kolektif tentang era kemakmuran kopi, pergolakan kolonial, hingga sosok Dalem Pancaniti dan Nyai Apun Gencay, maka tahun 2026 adalah waktunya membumikan nilai-nilai tersebut. ​

“Program ini (Cianjur 1834) mengajak kita pulang ke sejarah, bukan untuk terjebak di masa lalu, tetapi untuk memahami siapa kita hari ini,” ujar Wina di Cianjur, Senin 5 Januari 2026.

Dikutip dari Pikiran Rakyat (5/1/2026), Wina, yang juga merupakan Dosen Transformasi Budaya Sunda Universitas Suryakancana Cianjur, menegaskan konsep living heritage yang diusung tahun ini menempatkan warisan budaya sebagai praktik hidup. Menurutnya, pelestarian tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial semata.

​”Jika Cianjur 1834 adalah upaya mengingat dan menegaskan identitas, maka Living Heritage 2026 adalah upaya merawatnya dalam kehidupan sehari-hari. Warisan budaya harus hadir sebagai ruang belajar, ruang dialog, dan ruang hidup bersama masyarakat,” tuturnya. ​

Sepanjang tahun 2026, konsep ini akan diejawantahkan melalui serangkaian kegiatan strategis. Mulai dari forum diskusi publik, residensi seniman dan peneliti, program edukasi lintas generasi, hingga pendokumentasian pengetahuan lokal. ​Wina menekankan, seluruh rangkaian kegiatan dirancang secara kolaboratif dengan menempatkan warga sebagai subjek utama.

Hal ini sejalan dengan penerbitan buku “Pancaniti” dan “Rahasia Manuskrip 17″ oleh Langgam Pustaka pada 2025 lalu, yang menjadi tonggak penting dokumentasi narasi budaya Cianjur melalui pendekatan sastra dan filosofis​”Pelestarian bukan sekadar menjaga peninggalan, tetapi menumbuhkan keberpihakan pada seni budaya agar terus relevan dan berdaya guna bagi masa depan,” ucapnya. ​

Melalui transformasi dari Cianjur 1834 menuju Lokatmala Living Heritage 2026, Lokatmala Foundation menegaskan benang merah perjuangannya: bahwa sejarah adalah napas dan kebudayaan adalah tanggung jawab bersama yang harus diwariskan dengan penuh kesadaran. (Sumber: Pikiran Rakyat)






infocianjur

http://infocianjur.dev

dari Cianjur untuk Indonesia