Isra Mi’raj: Ketika Iman Belajar Rendah Hati di Hadapan Akal

Oleh: Saep Lukman, Pendiri infocianjur

Peringatan Isra Mi’raj setiap tahun selalu menghadirkan kisah agung tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus batas langit. Namun di tengah masyarakat modern yang hidup berdampingan dengan sains dan nalar kritis, pertanyaan lama selalu muncul, bagaimana peristiwa ini harus dipahami hari ini? Pertanyaan semacam i sering dianggap mengganggu iman. Padahal, justru dari sanalah iman dapat bertumbuh menjadi lebih dewasa.
Al-Qur’an membuka kisah ini dengan bahasa yang sangat singkat, tetapi sarat makna:
“Mahasuci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa… agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini penting dicermati. Al-Qur’an tidak memaparkan detail teknis perjalanan, kecepatan, atau mekanismenya. Fokusnya bukan pada bagaimana, melainkan pada mengapa: agar diperlihatkan tanda-tanda. Dengan kata lain, Isra Mi’raj sejak awal diletakkan sebagai peristiwa penyingkapan makna, bukan laporan perjalanan fisik ala sains modern.
Peristiwa ini dialami Nabi Muhammad SAW pada fase paling berat dalam hidupnya—setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib—ketika perlindungan sosial runtuh dan dakwah menghadapi penolakan. Dalam konteks ini, Isra Mi’raj dapat dibaca sebagai peristiwa penguatan eksistensial: sebuah perjumpaan manusia dengan sumber makna terdalam di saat semua sandaran duniawi lenyap.
Batas Akal dan Kejujuran Iman
Dalam sejarah pemikiran Islam, peristiwa Isra Mi’raj telah lama dibahas secara serius oleh para ulama dan filsuf. Al-Ghazali, seorang teolog besar sekaligus pemikir rasional, menegaskan bahwa realitas tidak selalu dapat ditangkap oleh akal diskursif. Dalam Ihya Ulumuddin, ia membedakan antara ‘ilm al-‘aql (pengetahuan rasional) dan ‘ilm al-kashf (penyingkapan batin). Isra Mi’raj, bagi Al-Ghazali, berada pada wilayah kedua: nyata, tetapi tidak tunduk pada logika mekanistik.
Pendekatan ini menemukan resonansi yang menarik dalam sains modern. Albert Einstein, dalam berbagai tulisannya, mengakui bahwa sains bekerja dalam kerangka ruang dan waktu yang terukur, tetapi tidak mampu menjawab makna terdalam realitas. Pernyataannya yang terkenal—“Science without religion is lame, religion without science is blind”—menggambarkan bahwa sains pun menyadari batas epistemologisnya. Isra Mi’raj, jika dipahami sebagai pengalaman kesadaran yang melampaui struktur ruang-waktu biasa, tidak bertentangan dengan sains, melainkan berada di luar wilayah kerjanya.
Sidratul Muntaha sebagai Batas Pengetahuan
Al-Qur’an menyebut Sidratul Muntaha dalam Surah An-Najm:
“Dan sungguh, dia telah melihatnya pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha.”
(QS. An-Najm: 13–14)
Dalam banyak pengajian, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai pohon di ujung langit. Namun dalam tradisi tasawuf filosofis, ia dipahami sebagai simbol batas tertinggi pengetahuan makhluk. Ibn Arabi, sufi besar dari Andalusia, menafsirkan Sidratul Muntaha sebagai hadd al-idrak—batas kesadaran. Di titik itu, bahasa berhenti bekerja, konsep runtuh, dan manusia hanya bisa berserah pada kehadiran Ilahi.
Menariknya, gagasan tentang batas ini justru sejalan dengan sains kontemporer. Kosmologi modern mengenal konsep observable universe: ada batas di mana informasi tidak lagi dapat dijangkau. Artinya, baik agama maupun sains sama-sama mengajarkan satu hal: realitas selalu lebih luas daripada kemampuan manusia untuk memahaminya sepenuhnya.
Buraq dan Bahasa Simbol
Demikian pula Buraq. Jika dipahami secara harfiah sebagai makhluk fantasi, kisah ini mudah dipatahkan oleh nalar modern. Namun dalam bahasa simbolik, Buraq—yang berasal dari kata barq (kilat)—menunjukkan kecepatan non-linear pengalaman spiritual. Dalam banyak tradisi mistik, pengalaman batin tidak tunduk pada jarak dan waktu sebagaimana pengalaman fisik.
Dengan pemahaman ini, Isra Mi’raj tidak perlu dipertentangkan dengan sains. Ia bukan pelajaran fisika, melainkan undangan untuk menyadari keterbatasan akal dan kedalaman makna iman.
Penutup
Isra Mi’raj pada akhirnya mengajarkan bahwa iman tidak tumbuh dari penjelasan yang dipaksakan, melainkan dari kejujuran intelektual. Al-Qur’an sendiri menegaskan:
“Dan mereka tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra: 85)
Ayat ini bukan merendahkan akal, tetapi menempatkannya secara proporsional. Di zaman ketika manusia mampu menembus angkasa dengan teknologi, tetapi sering kehilangan arah hidup, Isra Mi’raj hadir sebagai pengingat lembut: perjalanan terjauh manusia bukanlah ke langit, melainkan ke dalam kesadarannya sendiri.
Di situlah iman dan akal bertemu dalam kerendahan hati, bukan dalam saling meniadakan. (25 Rajab 1447H)***

