Membangun Cianjur Berbasis Budaya

 Membangun Cianjur Berbasis Budaya

Pertunjukan Musikal Dari Pancaniti ke Ceurik Oma di Gedung Assakinah 10 Juli 20224 lalu mampu hadirkan 800 penonton

Pendahuluan

Di tengah gelombang globalisasi yang kian deras, pembangunan berbasis budaya menjadi isu yang semakin relevan untuk dibahas. Cianjur, sebagai salah satu kabupaten dengan warisan budaya yang kaya, memiliki potensi besar untuk menjadikan budaya lokal sebagai pilar utama dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Sebagaimana diungkapkan oleh futurolog dan penulis buku The Third Wave, Alvin Toffler, “Masa depan yang sukses bukan hanya tentang kecepatan teknologi, tetapi bagaimana manusia memelihara nilai-nilai dan budaya mereka.” Dalam konteks Cianjur, pendekatan berbasis budaya tidak hanya melestarikan warisan lokal, tetapi juga menciptakan pembangunan yang lebih humanis dan inklusif.

Kegiatan Temu Tokoh dan Hearing/Dialog Pimpinan DPRD Kabupaten Cianjur, yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Cianjur (2024-2029), Ir. Hj. Metty Triantika, M.T., menjadi bukti nyata komitmen seorang pimpinan legislatif di Cianjur menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan di daerah. Kegiatan inii tidak hanya menjadi momen penyampaian aspirasi masyarakat, tetapi juga menggambarkan bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi pilar kebijakan publik yang berkelanjutan.

Daerah Pemilihan (Dapil) IV meliputi Kecamatan Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Sukaluyu dan Haurwangi memiliki kekayaan budaya yang melimpah, mulai dari tradisi agraris hingga seni pertunjukan seperti wayang golek dan seni tradisi lainnya. sehingga pembangunan berbasis budaya bukan hanya soal pelestarian, tetapi juga cara untuk memberdayakan masyarakat secara ekonomi dan sosial. Kita tidak dapat membangun  tanpa menghormati akar budaya yang telah menjadi identitas kita,

 

Pembangunan Berbasis Budaya

Menurut sosiolog ternama, Clifford Geertz, budaya adalah “jaring makna” yang menuntun perilaku dan pemikiran manusia. Dalam konteks ini, pembangunan di Cianjur harus bertumpu pada nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong, ngabungbang (musyawarah), dan tradisi agraris yang telah lama menjadi karakter masyarakatnya. Budaya lokal dapat menjadi landasan etis yang memperkuat hubungan sosial dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Dari perspektif global, UNESCO dalam laporan Cultural Policy and Development menekankan bahwa pembangunan berbasis budaya mampu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan kohesif. Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga aset ekonomi yang dapat mendorong kreativitas, inovasi, dan diversifikasi ekonomi. Untuk Cianjur, ini berarti memanfaatkan kekayaan seni tradisional seperti Tembang Sunda Cianjuran, wayang golek, dan produk lokal seperti beras Pandanwangi dan produk Cianjur lainnya sebagai identitas yang menggerakkan perekonomian.

Budaya sebagai Alat Pembangunan Ekonomi

Ahli ekonomi budaya, Richard Florida, dalam bukunya The Rise of the Creative Class, menyebut bahwa budaya adalah “magnet ekonomi” yang menarik investasi, wisatawan, dan tenaga kerja kreatif. Dalam konteks Cianjur, festival budaya seperti Festival Cisokan di Haurwangi atau Festival Nanggala di Desa Nanggalamekar dapat menjadi alat pemasaran daerah yang tidak hanya mengangkat potensi wisata, tetapi juga memperkuat merek daerah di kancah nasional dan internasional.

Selain itu, konsep ekonomi kreatif yang dipopulerkan oleh John Howkins juga relevan untuk Cianjur. Dengan mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam sektor kreatif seperti fesyen, kerajinan tangan, dan kuliner, Cianjur dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Misalnya, batik khas Cianjur dengan motif yang mencerminkan tradisi lokal dapat dikembangkan sebagai produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Budaya lokal sering kali menyimpan kearifan ekologis yang relevan dengan tantangan pembangunan modern. Futurolog Lester Brown dalam bukunya Plan B: Rescuing a Planet Under Stress and a Civilization in Trouble menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan hanya dapat dicapai jika masyarakat menghargai dan mempraktikkan nilai-nilai budaya yang selaras dengan alam. Di Cianjur, tradisi agraris seperti tata ruang sawah dan sistem irigasi tradisional tidak hanya mencerminkan hubungan harmoni manusia dengan alam, tetapi juga menjadi solusi lokal untuk ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air.

Pendekatan ini juga sejalan dengan pandangan Vandana Shiva, seorang aktivis lingkungan dan futurolog, yang menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati melalui pendekatan berbasis budaya. Dengan melestarikan varietas lokal seperti beras Pandanwangi dan tanaman herbal tradisional, Cianjur tidak hanya melestarikan kekayaan alam, tetapi juga mempromosikan kesehatan dan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam buku The City as a Cultural System, Lewis Mumford menekankan bahwa kota-kota yang berhasil adalah kota yang menempatkan budaya sebagai inti dari perencanaan dan desainnya. Di Cianjur, hal ini bisa diimplementasikan melalui pembangunan ruang publik seperti alun-alun, taman kota, atau pusat seni yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang interaksi budaya. Contohnya, pembangunan pusat budaya seperti Museum Cianjur atau Taman Budaya Cianjur dapat menjadi ikon yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Cianjur.

Futurolog Jane Jacobs dalam The Death and Life of Great American Cities juga menekankan pentingnya menciptakan ruang kota yang “hidup” dengan aktivitas budaya dan sosial. Dengan menghidupkan kembali pasar tradisional, mempercantik desa-desa wisata, dan mengintegrasikan seni ke dalam ruang-ruang kota, Cianjur dapat menciptakan lingkungan urban yang lebih manusiawi dan inklusif. Program kebudayan berskala nasional dan global seperti Cianjur 1834 yang bakal digelar di Cianjur pada 2025 dan Cianjur International Cultural Festival: Embracing Heritage & Celebrating Diversity  pada 2026 adalah salah satu contoh konkret sebuah pembangunan yang hidup sehingga  patut mendapatkan tempat dan dukungan semua pihak.

 

Peran Pendidikan 

Ahli pendidikan Paulo Freire menyatakan bahwa pendidikan harus “membebaskan” dan “membudayakan”. Untuk membangun Cianjur berbasis budaya, pendidikan lokal harus menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya sejak dini. Program pendidikan yang mengajarkan seni tradisional, sejarah lokal, dan kearifan ekologis dapat mempersiapkan generasi muda untuk menjadi penjaga dan penggerak budaya di masa depan.

Selain itu, integrasi teknologi dalam pendidikan budaya juga penting. Menurut futurolog Alvin Toffler, pendidikan masa depan harus memadukan teknologi dengan nilai-nilai tradisional untuk menciptakan individu yang adaptif dan berbasis nilai. Cianjur dapat mengembangkan platform digital untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda, seperti aplikasi belajar wayang golek atau virtual tour desa adat.

Pendekatan berbasis budaya juga membutuhkan dukungan kebijakan yang visioner. Menurut Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, pembangunan manusia tidak hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang memperluas kebebasan dan kapasitas masyarakat untuk menjalani kehidupan yang mereka hargai. Dalam konteks ini, kebijakan pembangunan di Cianjur harus memberikan ruang bagi pelestarian dan inovasi budaya. Misalnya, alokasi anggaran khusus untuk seni dan budaya dalam APBD, pelindungan terhadap seniman lokal, dan insentif untuk usaha berbasis budaya.

Selain itu, kolaborasi dengan organisasi internasional seperti UNESCO dapat memperkuat posisi Cianjur sebagai pusat budaya dunia. Dengan mendaftarkan warisan budaya seperti Tembang Sunda Cianjuran atau kampung adat Miduana sebagai Warisan Budaya Tak Benda atau Cagar Budaya Cianjur dapat meningkatkan reputasi globalnya sekaligus menarik lebih banyak wisatawan dan investasi. Di Dapil IV terdapat beberapa objek yang semula masuk Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang kini telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya (CB). Seperti Tugu Cisokan, Jembatan Lama  dan Tebing Inggris yang penuh dengan cerita heroik masa kemerdekaan. 

 

Visi Masa Depan

Sebagaimana diramalkan oleh futurolog terkenal, Peter Schwartz, masa depan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika komunitas lokal mampu memanfaatkan kekayaan budayanya untuk menghadapi tantangan global. Cianjur, dengan segala kekayaan seni, tradisi, dan kearifan lokalnya, memiliki peluang besar untuk menjadi model pembangunan berbasis budaya yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga inspiratif secara global.

Mengintegrasikan budaya ke dalam semua aspek pembangunan; mulai dari ekonomi hingga lingkungan, dari pendidikan hingga kebijakan, akan mendorong Cianjur ke arah masa depan yang lebih berkelanjutan dan penuh makna. Sebab budaya bukan hanya sekedar aset, tetapi juga kompas moral dan strategis yang dapat membimbing masyarakat menuju kemajuan yang berlandaskan nilai.

 

Kesimpulan

Pembangunan berbasis budaya bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam konteks Cianjur, pendekatan ini tidak hanya relevan tetapi juga mendesak untuk menciptakan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkarakter. Dengan memanfaatkan kekayaan budaya sebagai aset strategis, Cianjur dapat menginspirasi dunia sekaligus menjaga jati dirinya sebagai “kota budaya” yang hidup dan berkembang.

Komitmen Ketua DPRD Kab. Cianjur, Ir. Hj. Metty Triantika, MT.,  untuk membawa aspirasi masyarakat ke dalam kebijakan strategis DPRD yang lebih visioner mencerminkan sikap  yang selaras dengan pendapat Amartya Sen tentang pembangunan manusia yang berpusat pada kebebasan dan kapasitas masyarakat. Hearing ini menandai langkah awal dalam menciptakan kebijakan berbasis budaya yang tidak hanya melestarikan warisan lokal tetapi juga mendorong inovasi dan kolaborasi.






infocianjur

http://infocianjur.dev

dari Cianjur untuk Indonesia